Rabu, 07 April 2010

Pembudidayaan Sawit di Lahan Pasir

Dengan semakin pesatnya perkembangan perkebunan sawit di Indonesia, maka menyebabkan ketersediaan lahan yang bagus semakin tipis. Dengan keterbatasan ini, beberapa investor telah mencoba ekspansi ke lahan-lahan "super" marginal yaitu pasir (kandungan pasir > 80 %).

Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengelolaan lahan pasir antara lain :
1. Kandungan unsur hara yang rendah
2. Koloidal tanah yang rendah
3. Pencucian unsur hara yang tinggi
4. Tingkat erodibilitas yang tinggi
5. Produktivitas lahan (ekonomiskah ?)

1. Kandungan unsur hara

Hampir semua unsur hara, baik makro-primer, makro-skunder maupun mikro sangat rendah kandungannya di tanah pasir. Sehingga, tanaman akan mengalami defisiensi berat bila dibudidayakan di area pasir. Untuk memperoleh pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang baik dibutuhkan input yang sangat tinggi/mahal, baik dari pupuk (kuantitas) dan bahan organic ataupun soil conditioner lainnya.

Solusi :
Pemupukan yang berimbang baik dari segi kuantitas maupun jenis pupuk yang cocok untuk area berpasir. CRF, merupakan salah satu pilihan yang dapat dipergunakan apabila penggunaan soil conditioner tidak efisien.

2. Koloidal tanah

Fraksi tanah yang memiliki sifat koloidal adalah fraksi liat. Pasir, yang memiliki ukuran kasar, memiliki koloidal yang sangat rendah. Dengan nilai koloidal yang sangat rendah ini, maka tanah pasir memiliki kemampuannya untuk mempertukarkan kation/anion yang sangatlah rendah pula. Dengan kondisi seperti ini, pencucian unsur hara akan sangat tinggi. Pupuk yang diberikan, sebagian besar akan hilang tercuci setelah terurai menjadi ion-ion sebelum diserap akar tanaman.

Solusi :
Pemupukan dengan frekwensi tinggi dengan dosis rendah, akan mengurangi proses pencucian serta penggunaan jenis pupuk yang tepat dan penggunaan soil conditioner.

3. Pencucian Unsur hara

Seperti yang sudah disampaikan di point 2. Tanah pasir memiliki potensi pencucian unsur hara yang sangat tinggi karena kemampuannya dalam mengikat unsur hara (ion-ion) sangat rendah karena kandungan koloidalnya yang rendah. Dengan pencucian unsur hara yang tinggi ini, akan menyebabkan rendahnya efisiensi pemupukan.

Solusi :
Karena kemampuannya dalam mengikat unsur hara sangat rendah, (< 10 meq/100 gr tanah), maka untuk menghindari kehilangan unsur hara akibat pencucian, maka dosis pemupukan cukup rendah saja, namun frekwensinya yang harus ditingkatkan. Untuk musim hujan, sebaiknya pemupukan tidak dilakukan.

4. Erodibilitas

Tingkat tererosinya tanah pasir sangatlah tinggi, karena tidak adanya agregasi yang baik pada fraksi pasir. Dengan kondisi seperti ini, aplikasi pemupukan di permukaan akan sangat rendah efisiensinya bila dilakukan pada saat hujan.

Solusi :
Pengikisan top soil harus dihindari pada saat pembukaan lahan, karena dengan terganggunya lapisan atas, akan menyebabkan aliran permukaan semakin mudah membawa partikel-partikel pasir.

5. Produktivitas lahan

Produksitivitas lahan pasir sudah pasti jauh lebih rendah dibandingkan dengan lahan mineral. Dengan segala macam keterbatasan dan input yang tinggi pada lahan pasir, ada satu pertanyaan yang perlu diajukan, apakah masih ekonomis untuk dikembangkan tanaman kelapa sawit ? Memang kajian secara seksama hingga saat ini masih belum dilakukan, namun potensi produksi dan input yang tinggi, sudah tentu akan sangat meminimkan efisiensi pendapatan di lahan pasir.